Sebutan kyai tidak hanya melekat pada manusia. Keris, gong, kereta dan beberapa barang yang yang dikeramatkan lainya pun ada. Kini, bahkan grup musikpun menyebut dirinya sebagai kyai, seperti “kyai kanjeng”, milik budayawan Emha Ainun Najib. Sebutan kyai untuk manusia adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu. Tapi tidak selalu ilmu agama. Orang yang dianggap memiliki ilmu kebatinan(baca: dukun) tak jarang juga disebut sebagai kyai. Tapi dalam tajuk ini yang dimaksud kyai adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu agama. Maka bisa juga disebut sebagai ulama.
Kyai kerap dikonotasi sebagai pengasuh pesantren, guru ngaji. Setiap hari berkutat pada ilmu al-Quran. Sekilas dipandang sebagai orang yang hanya bisa membaca al-Quran. Tidak lebih. Soal politik, kenegaraan, kemasyarakatan, seolah buka porsi mereka. Karena itu kerap dipandang tak pantas ketika kyai bicara politik, atau soalkemasyarakatan lain. Padahal dalam al-Quran memuat segala segi kehidupan manusia. Muali soal kecil urusan dirumah, samapi urusan besar negara, bahkan menata dunia. Lihat saja perjalanan bangsa dan negara ini. Sejak dijajah beberapa bangsa asing, peran kyai amat dominan dalam politik. Mereka terus berontak melalui berbagai jalur : pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Semua perjuangan itu bermuara pada terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia.
Setelah merdeka, ketika bangsa ini membangun, peran kyai juga dominan. Pesantren dan berbagai lembaga pendidikan lain yang didirikan dan dikembangkan kyai, terus mendidik bangsa ini untuk bangkit dan berkembang. Tak jarang lulusan madrasah menelorkan para ahli yang tentunya amat diperlukan dalam derap pembangunan negeri ini. Itu menunjukkan bahwa kyai benar-benar mampu membangun bangsa ini, dan bangsa dimanapun di dunia ini. Iran juga maju setelah dipimpin kyai(Imam Khomeini). Kalau merunut jauh kebelakang, Nabi Muhammad saw juga berperan sebagai Kepala Negara. Begitu juga Khulafa’al-Rasyidin.
tetapi, seperti komunitas lain, kemampuan kyai juga berbeda. Tidak semua mampu berpandangan luas, sampai keberbagai aspek pranata kehidupan. Tak jarang kyai yang hanya mampu ilmu agama, tak paham politik kenegaraan. Ketika reformasi terjadi di negeri ini, dan terjadi kebebasan berpartai politik, muncul sekitar 40 parpol. Menjelang Pemilu, tentu semua parpol perlu orang yang bersedia dijadikan caleg. Berbagai jurus dilakukan oleh para petinggi parpol untuk merayu orang-orang yang dinilai memiliki basis massa jelas. Maka tak jarang kyai menjadi sasaran.
Tak sedikit kemudian kyai terlena pada rayuan itu. Bagi yang memiliki kemampuan luas, tentunya baik. Yang menjadi soal adalah kyai yang tak paham politik, hanyut dalam rayuan politis yang tak paham Islam, atau yang tak mengindahkan norma-norma Islam. Bila kemampuan komunikasi kyai di lingkup politik di bawah kemampuan komunitas politisi amoral, tentu yang terjadi bukannya berdakwah di ranah politik, tetapi justru kyai yang dipolitisir. Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat. Dan, pemilu 2009 ini menjadi satu ajang introspeksi