Agama Sebagai Gaya Hidup

Ketika terjadi baku hantam antar faksi dalam suatu agama atau antar pengikut ajaran agama tertentu, seperti akhir-akhir ini yang sering terjadi, atau kekerasan antar kelompok yang mengatasnamakan agama menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa agama ternyata melahirkan kekerasan. Padahal ajaran agama manapun tidak ada yang mengijinkan kekerasan yang mengakibatkan seseorang atau sekelompok orang merasa terpojok, terintimidasi bahkan merasa didzolimi.

Dalam kehidupan lain pengabaian norma agama juga mulai menampak, lebih-lebih dikota besar yang dengan mudahnya dialiri budaya luar yang negatif. Pertautan lelaki-wanita yang mestinya diikat dengan pernikahan, kini dianggap sebagai sesuatu yang usang. Kalau toh menikah, ikatan cusi tersebut seakan hanya didilakukan untuk melegalkan sebuah perzinaan. Suatu contoh seseorang masuk ke agama Islam karena Calon suaminya beragama Islam dan ketika mereka bercerai, mantan istrinya keluar dari agama Islam dan kembali ke agama yang dianut sebelumnya. Agama yang menjadi dasar acuan sebuah janji suci tidak lagi menjadi landasan moral. Agama bukan lagi menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan, apalagi sebagai gaya hidup. Mereka mengaku beragama bisa jadi karena sekadar mengikuti aturan hukum negara yang mengharuskan warga negaranya menganut suatu aliran agama tertentu. Sikap abai terhadap agama itu kini sudah bukan hal yang tabu. Perilaku masyarakat kota saat ini yang cenderung keduniawian dan hedonis, tanpa sadar bahwa nantinya akan ada kehidupan yang kekal(akhirat) setelah itu.

Karena itu tidaklah berlebihan apabila kita para orangtua perlu memberikan anak bahkan cucu kita bekal pendidikan agama yang intens. Sebagai benteng Ketahuhidan dan moral perlu suatu pendidikan yang menunjukkan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki dan Khusnul Khotimah, sehingga kita semua terhindar dari hal-hal yang negatif.Amin(Dwi)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish