Budi Pekerti

Banyak penelitian menyimpulkan, perilaku remaja kini semakin jauh dari norma kesusilaan. Kriminalitas, seks bebas dan berbagai kemerosotan moral melanda mereka, seolah tiada “jaring pengaman”. Celakanya pintu menuju perilaku destruktif(merusak) itu kerap tidak disadari orangtua. Bahkan banyak pintu yang dinilai sebagai bagian dari tren masa kini. Sehingga, tidak perlu mendapat koreksi, apalagi pembelokan.

“Valentine day” misalnya. Hari keempatbelas setiap Februari itu dijadikan tren anak muda untuk mencurahkan kasih sayang, terutama kepada kekasih. Perjalanan curahan kasih sayang itu terus melebar, menjadi semakin permisif. Didukung perilaku dan film yang kerap menjadi panutan anak muda- padahal semakin jauh dari norma kesusilaan- hari kasih sayang itu kemudian menjadi hari “huru-hara seks”. Sementara sejumlah orangtua justru ada yang merasa “malu” kalau anak mereka tidak mengikuti gempitanya hal tersebut, karena khawatir dinilai konservatif, tidak modern, oleh tetangga.

Belum lagi tentang etika. Kini, tatakrama antara yang muda kepada yang tua semakin luntur. Dulu, dalam tradisi Jawa, anak muda selalu menggunakan bahasa halus (kromo inggil) ketika bicara dengan yang lebih tua. Kini tradisi itu memudar. Bahkan, panggilan “mas” atau “kang” kepada yang lebih tua menjadi langka. Ironisnya, melunturnya tradisi tatakrama itu bukan lagi menjadi sesuatu yang patut diprihatinkan. Masyarakat sudah menganggap biasa, bahkan tatakrama dikesankan sebagai sikap yang kurang cerdas.

Dengan kata lain, telah terjadi pergeseran nilai dalam budaya manusia. Tak jelas kapan muasalnya. Yang pasti, arus informasi yang kian tak terbendung dan sikap permisif yang tak mengenal tolok ukur, menjadi penyebab utama pergeseran.

Meski demikian, bukan berarti kita tak bisa meminimalisir atau bahkan-pada bagian-bagian tertentu-menetralisir. Persoalannya, apakah kita punya niat kuat untuk menyelamatkan generasi bangsa ini?

Penyelamatan itu bisa dimulai dari lembaga pendidikan, sampai diarena pergaulan masyarakat. Dulu, sebelum tahun 80-an, disetiap sekolah diajarkan pelajaran Budi Pekerti. Isinya Selalu merujuk pada agama. Murid diajarkan berbagai tatakrama, sampai pengenalan yang haq dan bathil. Ditambah dengan pelajaran agama Islam yang cukup. Dalam pelajaran itu, ada konsekuensi tegasbila terjadi pelanggaran. Bukan hanya siswa, gurupun memperoleh sanksi. Siswa tidak hanya dibombardir pelajaran-2 yang hanya merujuk pada angka-angka matematis. Kepandaian dan kebodohan bukan hanya dilihat dari pelajaran matematika, fisika, ekonomi. Seringkali seorang anak dikelas dianggap bodoh, malah ternyata brilian. Banyak faktor yang menjadi tolok ukur untuk meniali seorang anak. Yang pasti, tatakrama, perilaku sopan, dan pengenalan secara tegas terhadap yang baik dan buruk, menjadi sangat penting, sebagai bagian dari pelatihan kedisiplinan, kepatuhan terhadap orangtua dan hukum, serta pemosisian diri dalam kubu positif.

Untuk itu, mungkin pelajaran Budi Pekerti bisa ditinjau kembali. Bukan dalam bentuk yang terus berubah, sesuai “arah angin” politik penguasa, seperti yang terjadi pada era Orde Baru. Pelajaran Budi Pekerti dirubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila(PMP), dan seterusnya yang sesungguhnya bermuara pada kepentingan politik penguasa. Melainkan semua tertuju pada tujuan mulia : mencetak generasi bangsa yang bermartabat. Dan, untuk membangun pelajaran Budi Pekerti itu, sumber yang paling masuk akal adalah agama(Islam). Bukan buah pikiran manusia yang terus mengalami transformasi dalam batasan yang tidak jelas.(matan,Februari 2009)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish