(Renungan)
Sabtu malam minggu sering dianggap hari special oleh banyak orang, terutama orang kota. Tetapi tidak bagi Pak Kasan, tukang becak di Klaten, Jawa Tengah. Ia memilih hari Jum’at sebagai hari special, bukan malam minggu, karena Jum’at merupakan sayyidul ayyam, penghulu semua hari.
Jika banyak orang mengisi malam minggu dengan begadang atau bersenang-senang, maka pak Kasan mengisi hari spesialnya, hariJum’at, dengan melakukan amal spesialpula. Pada tiap Jum’at ia bertekad harus bisa memberi lebih banyak kepada orang lain daripada hari biasa. Tapi pak Kasan “hanya” tukang becak yang tidak punya banyak uang. Apa yang bisa dilakukan? Pakn Kasan lalu memutuskan setiap hari Jum’at semua penumpangnya di gratiskan. Itulah Shodaqohnya.
Bu Marto, orang kaya, suatu hari naik becak pak Kasan tanpa menawar. Kebetulan hari itu hari Jum’at. Setelah sampai tujuan, bu Marto bertanya berapa ongkos yang harus dia bayar. “maaf bu, bukan saya menolak uang ibu, tetapi saya telah bertekad bersedekah dengan menggratiskan semua penumpang saya pada hari Jum’at. Kebetulan hari ini hari Jum’at, jadi ibu tidak perlu membayar ongkos becak”, kata pak Kasan dengan sopan. Lalu dia mengayuh becaknya pergi tanpa menunggu jawaban balik bu Marto.
Tinggallah bu Marto sendiri, berdiri, sambil termangu. Dia merasa di jewer karena selama ini sangat jarang bersedekah. Tetapi dia tidak percaya begitu saja. Dia ingin menguji ketulusan tukang becak itu. Maka pada hari lain, bu Marto sengaja menumpang becak pak Kasan pada hari Jum’at. Kali ini dia pilih tujuan yang lebih jauh daripada Jum’at sebelumnya. Ternyata pak Kasan tidak berubah. Hari Jum’at itu bu Marto digratiskan membayar ongkos becak karena hari Jum’at. Bu Marto kini yakin kebaikan pak Kasan pada hari Jum’at bukan pura-pura. Akhirnya bu Marto minta diantar kerumah pak Kasan, ingin melihat dari dekat keluarga pak Kasan. Maka dengan senang hati tukang becak yang tulus itu mengantarkan. Di sana buMarto menyaksikan rumah pak Kasan sangat sederhana, istrinya berjilbab menutup aurot tubuhnya dan dua orang anak manis yang masih duduk di sekolah dasar. “ Saya merasa malu kepada bapak”, kata bu Marto. “Bapak orang luar biasa. Bapak hidup sederhana, cenderung kekurangan tetapi tidak pernah meninggalkan sedekah. Sedangkan saya yang kecukupan, bahkan berlebih, tetapi tidak bersedekah”, katanya. Singkat cerita, akhirnya bu Marto ingin mengajak pak Kasan dan istrinya naik haji bersama.
Kesederhanaan adalah kekuatan. Kita sering memperoleh kearifan dari orang-orang kecil yang menjalani hidup dengan hati sederhana tetapi penuh kejujuran. Memberi tanpa harap dipuji, apalagi menuntut publikasi. Bulan ini kita memasuki dua tahun baru, Hijriyah dan miladiyah. Apa yang bisa kita lakukan untuk memberi makna lebih pada kehidupan kita? Pak Kasan memilih jalan sederhana tapi konkret. Dan keputusan itu luar biasa. Setiap Jum’at dia berinfaq 100 persen, bukan 10 atau 20 persen dari seluruh hasil keringatnya. Hari itu dia pulang tanpa membawa uang sepeserpun uang. Padahal belum tentu di rumah ada uang untuk belanja. Pak Kasan mengajarkan kepada kita tentang kesungguhan. Hari Jum’at dijadikan alat pengungkit meningkatkan kebaikan. Pak Kasan juga mengajarkan sikap Istiqomah. Apa yang telah ia putuskan, dia jalani dengan penuh istiqomah, tidak kendur. Khorul amali adwamuha wain qala ( sebaik-baiknya amal ialah di lakukan terus-menerus walaupun sedikit ). Hanya kesungguhan yang membuat orang bisa istiqomah dan berkelanjutan.
Memasuki awal tahun ini apakah kita punya hari-hari spesial seperti pak Kasan? Apakah hari spesial kita juga berfungsi sebagai alat pengungkit kebaikan? Atau hanya untuk bergembira dan menyenangkan diri sendiri? Apakah kita punya alat pengungkit yang bisa mengangkat amal kebaikan lebih banyak dari tahun kemarin? Atau punya hari spesial? Tuhan memberi kita bulan spesial yaitu Ramadhan. Seharusnya kita juga membuat sendiri hari spesial atau minggu spesial. Semua yang kita miliki sesungguhnya bisa kita jadikan alat pengungkit kebaikan. Pak Kasan punya becak dan dengan becak itu dia jadikan pengungkit kebaikan. Dan kita punya mobil, sepeda motor, tabungan, jabatan, ilmu, ketrampilan dan masih banyak lagi. Lalu manakah dari milik kita yang banyak itu kita jadikan alat pengungkit kebaikan kita?
Seharusnya bukan hanya bu Marto yang merasa kena jewer pak Kasan, tetapi kita semua. Begitu banyak yang kita miliki tetapi begitu sedikit yang kita jadikan pendorong amal. Tsummalatus-alunna yauma idzin anin na’im (pada hari itu, sungguh-sungguh kalian akan ditanya tentang semua kenikmatan).-matan Januari 2010-