Archive for the ‘Artikel’ Category

Keluarga

Jumat, Agustus 21st, 2009

Keluarga, meski merupakan satuan terkecil dari sebuah negara, namun perannya amat menentukan. Kokoh dan runtuhnya sebuah negara tergantung bangunan yang dibentuk oleh keluarga yang ada didalamnya. Kehancuran keluarga bisa mengancam kehancuran negara. Persoalannya, terlalu banyak orang yang tidak menyadari hal itu. Keluarga seolah tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap keberlangsungan sebuah bangsa, sebuah negara. Sehingga, persoalan-persoalan keluarga tidak menjadi prioritas pembangunan dalam sebuah negara.

selengkapnya →

Dunia Pendidikan

Kamis, Juli 16th, 2009

Empat puluh tahun lalu, sekolah belum menjadi dambaan masyarakat. Para orangtua belum cukup memiliki tekad kuat untuk menyekolahkan anak mereka. Faktor utama bukan soal ekonomi. Sebab tidak sedikit sekolah-lebih-lebih sekolah swasta Islam- sangat memahami kondisi ekonomi masyarakat. Yeyapi karena memang pemahaman para orangtua tentang sekolah belum cukup mampu memotivasi untuk bertekad menyekolahkan anak-anak mereka.

selengkapnya →

Mental

Selasa, Mei 12th, 2009

Pemilu 2009 luar biasa. Bukan soal nilai demokrasi, tetapi hiruk-pikuk pelaksanaan dan dampak sesudahnya bisa dijadikan bahan guyonan, bahkan bagi rakyat yang berpendidikan rendah. Di berbagai tempat elit sampai warung kopi pelosok desa, tak lepas menggunjingkan Pemilui yang penuh dinamika konyol itu. Mulai pemunculan 38 partai nasional dan 6 partai lokal, sampai keputusan Mahkamah Konstutusi(MK) tentang suara terbanyak bagi caleg pemenang, membuat suasana “pertarungan” semakin sengit. Berbagai cara dilakukan para caleg berikut parpolnya. Tak hirau melanggar rambu etika apapun. Undang-undangpun disiasati, dicari celah atau menyelinap di balik penglihatan aparat penegak hukum. Pokoknya, segala cara dilakukan.

Semua caleg mengeluarkan uang- dianggap biaya politik- bahkan ada yang menjual sawah dan rumah. Iming-iming kursi dewan yang sangat terhormat dan bergelimang uang terus membayang. Berbagai kalimat memperjuangkan kepentingan rakyat dirangkum. Mereka bak dewa yang siap mengorbankan apa saja demi rakyat. Pemilu legislatif dihelat 9 April lalu. Hasilnya banyak caleg gagal, tewas akibat bunuh diri, gila, mengamuk, mencabut kembali semua yang telah diberikan kepada rakyat, stres dan masih sederet perilaku memalukan lainnya. Mereka kaget karena perolehan suaranya memastikan tak mencapai kursi dewan. Mereka lalu mengumpat rakyat : menjual demokrasi dengan sebungkus rokok.

Rakyat balik mengumpat. Apa yang dilakukan rakyat tak lebih sebagai keberhasilan “pendidikan” para elit politik kepada rakyat. Bahwa uang sebagai tujuan segala kiprah politisi telah dipahami rakyat. Dan rakyat tak mau lagi dibohongi. Jargon-jargon memperjuangkan rakyat tak lebih sebagai kalimat pembungkus tujuan yang sesunggguhnya : uang. Bahkan, rakyat juga tak lagi serta merta menerima arahan para tokoh agama soal politik. Rakyat telah mengerti bahwa apa yang dilakukan sejumlah tokoh agama itu penuh nuansa transaksional dengan para caleg.

Pangkal persoalan kondisi itu sebenarnya tidak rumit. Mental menjadi kata kunci. Meluapnya jumlah partai politik tak lepas dari penyakit mental yang selalu menolak musyawarah dalam perbedaan.  Juga tak lepas dari pengaruh suara-suara pembisik yang terus membakar semangat para elit untuk bertarung, bukan bersaing(secara sehat - fastabiq al-khairat).

Demikian juga para caleg. Mental mereka patut dipertanyakan. Yang kalah menjadi gila bahkan bunuh diri, yang menang -kalau melihat pengalaman yang lalu- lepas kendali. Mental mereka runtuh ketika menghadapi dinamika dunia gemerlap. Mental menjadi penentu keberhasilan pencapaian cita-cita. Kalau mental elit negeri ini runtuh, jangan salahkan bila mental rakyat ikut tergerus. Dan negeri ini menunggu kehancuran. Kalau bangsa ini mau menjadi bangsa yang disegani, dan negara ini menjadi negara besar, penguatan mental menjadi agenda utama. Lebih-lebih bagi para elit berbagai sektor. Jangan lagi seleksi calon elit negeri mengabaikan persoalan mental.(matan,mei 2009)

Agamawan dan Politik

Sabtu, April 18th, 2009

Sebutan kyai tidak hanya melekat pada manusia. Keris, gong, kereta dan beberapa barang yang yang dikeramatkan lainya pun ada. Kini, bahkan grup musikpun menyebut dirinya sebagai kyai, seperti “kyai kanjeng”, milik budayawan Emha Ainun Najib. Sebutan kyai untuk manusia adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu. Tapi tidak selalu ilmu agama. Orang yang dianggap memiliki ilmu kebatinan(baca: dukun) tak jarang juga disebut sebagai kyai. Tapi dalam tajuk ini yang dimaksud kyai adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu agama. Maka bisa juga disebut sebagai ulama.

Kyai kerap dikonotasi sebagai pengasuh pesantren, guru ngaji. Setiap hari berkutat pada ilmu al-Quran. Sekilas dipandang sebagai orang yang hanya bisa membaca al-Quran. Tidak lebih. Soal politik, kenegaraan, kemasyarakatan, seolah buka porsi mereka. Karena itu kerap dipandang tak pantas ketika kyai bicara politik, atau soalkemasyarakatan lain. Padahal dalam al-Quran memuat segala segi kehidupan manusia.  Muali soal kecil urusan dirumah, samapi urusan besar negara, bahkan menata dunia. Lihat saja perjalanan bangsa dan negara ini. Sejak dijajah beberapa bangsa asing, peran kyai amat dominan dalam politik. Mereka terus berontak melalui berbagai jalur : pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Semua perjuangan itu bermuara pada terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah merdeka, ketika bangsa ini membangun, peran kyai juga dominan. Pesantren dan berbagai lembaga pendidikan lain yang didirikan dan dikembangkan kyai, terus mendidik bangsa ini untuk bangkit dan berkembang. Tak jarang lulusan madrasah menelorkan para ahli yang tentunya amat diperlukan dalam derap pembangunan negeri ini. Itu menunjukkan bahwa kyai benar-benar mampu  membangun bangsa ini, dan bangsa dimanapun di dunia ini. Iran juga maju setelah dipimpin kyai(Imam Khomeini). Kalau merunut jauh kebelakang, Nabi Muhammad saw juga berperan sebagai Kepala Negara. Begitu juga Khulafa’al-Rasyidin.

tetapi, seperti komunitas lain, kemampuan kyai juga berbeda. Tidak semua mampu berpandangan luas, sampai keberbagai aspek pranata kehidupan. Tak jarang kyai yang hanya mampu ilmu agama, tak paham politik kenegaraan. Ketika reformasi terjadi di negeri ini, dan terjadi kebebasan berpartai politik, muncul sekitar 40 parpol. Menjelang Pemilu, tentu semua parpol perlu orang yang bersedia dijadikan caleg. Berbagai jurus dilakukan oleh para petinggi parpol untuk merayu orang-orang yang dinilai memiliki basis massa jelas. Maka tak jarang kyai menjadi sasaran.

Tak sedikit kemudian kyai terlena pada rayuan itu. Bagi yang memiliki kemampuan luas, tentunya baik. Yang menjadi soal adalah kyai yang tak paham politik, hanyut dalam rayuan politis yang tak paham Islam, atau yang tak mengindahkan norma-norma Islam. Bila kemampuan komunikasi kyai di lingkup politik di bawah kemampuan komunitas politisi amoral, tentu yang terjadi bukannya berdakwah di ranah politik, tetapi justru kyai yang dipolitisir. Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat. Dan, pemilu 2009 ini menjadi satu ajang introspeksi

Budi Pekerti

Jumat, Maret 6th, 2009

Banyak penelitian menyimpulkan, perilaku remaja kini semakin jauh dari norma kesusilaan. Kriminalitas, seks bebas dan berbagai kemerosotan moral melanda mereka, seolah tiada “jaring pengaman”. Celakanya pintu menuju perilaku destruktif(merusak) itu kerap tidak disadari orangtua. Bahkan banyak pintu yang dinilai sebagai bagian dari tren masa kini. Sehingga, tidak perlu mendapat koreksi, apalagi pembelokan.

“Valentine day” misalnya. Hari keempatbelas setiap Februari itu

selengkapnya →

SYARI’AH

Kamis, Desember 25th, 2008

Kata Syari’ah mempunyai makna yang luas, dalam al-Qur’an disebut hanya sekali, yakni Surat al-Jatsiyah:18 “tsumma ja,alnaka’ala syari’atin min al-amr”(kemudian kami jadikan engkau berada diatas syariat dari urusan itu). Sekalipun disebut hanya sekali, kata-kata itu dalam proses sejarah Islam menjadi sangat penting. Di masa kini, kata-kata itu semakin penting. Ada Mahkamah Syari’ah, ada Fakultas Syari’ah, ada  Bank Syari’ah dan ada juga gerakan Pro Syari’ah.

Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibnu al-Mandhur syari’ah berarti tempat air ditepi laut, tempat binatang minum. Bisa berarti jalan menuju mata air. Kemudian dalam konteks Islam, kata penulis tersebut, syari’ah bermakna apa yang ditentukan dalam agama. Pengertian ini menunjukan cakupan syari’ah yang sangat luas. Ia mencakup seluruh amal perbuatan manusia yang diajarkan dalam Islam, mulai dari urusan makro sampai mikro. Mulai dari persoalan hubungan internasional sampai kepersoalan perilaku individu. Dengan kata lain, Syari’ah menyangkut ajaran akhlaq(etika dan moral), muamalah(hubungan antar manusia), dan ibadah(hubungan manusia dengan Tuhan).

Namun ada kalanya syari’ah mengalami penyempitan makna. Syari’ah dipahami hanya sebagai hukum-hukum agama; bahkan dipersempit lagi menjadi hukum Fikih; dipersempit lagi menjadi hukum perdata dan pidana. Yang sangat menggelisahkan adalah bahwa syari’ah diidentikkan hanya dengan hukum rajam dan potong tangan.

Bagi umat Islam, sebenarnya tidak ada persoalan bahwa syari’ah adalah jalan hidup yang tidak bisa ditawar. Persoalannya terletak pada pemahamannya. Syari’ah harus dipahami secara komperehensif dan harus terwujud dalam kehidupan nyata. Karena itu, mendidik masyarakat untuk bisa bersuci secara hiegenis misalnya, adalah manifestasi dari syari’ah. Bersuci tidak hanya cukup dengan menggunakan ukuran formalitas fikih. Bersuci sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan adalah bagian dari pelaksanaan syari’ah. Berjuang untuk melawan kemiskinan dan kebodohan adalah bagian dari syari’ah. Berjuang untuk menegakkan keadilan dan martabat manusia juga bagian dari syari’ah. Juga memberantas korupsi dan menegakkan amanah adalah kewajiban syari’ah.

Menegakkan syari’ah memerlukan strategi. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan semangat dan keiklasan. Semangat dan keikhlasan adalah penting, tetapi belum cukup untuk menjadikan perjuangan itu berhasil. Perjuangan memerlukan strategi. Karena itu tidaklah cukup menegakkan syari’ah dengan memasang spanduk dijalan-jalan, demontrasi apalagi menakut-nakuti orang di jalan. Strategi itu akan menimbulkan ketakutan. Syari’ah kemudian dikesankan sebagai simbol yang menakutkan, bukan yang dibutuhkan.

Strategi menegakkan syari’ah melalui pendidikan dan layanan sosial tidak kalah penting. Penegakan syari’ah melalui jalan damai dan realistik akan lebih efektif. Karena itu menjadikan syari’ah sebagai isu politik tidaklah produktif. Lebih baik kita mendorong esensi syari’ah yang berorientasi pada kemaslahatan, misalnya menjadi ruh bagi seluruh produk legislasi.

Kegagalan aktivitas Islam dalam memahami syari’ah akan merugikan dakwah Islam. Lebih fatal lagi jika isu syari’ah hanya bertujuan politis dan berjangka pendek. Bisa dipahami jika masyarakat non-muslim, terkadang merasa miris mendengarkan kata-kata “syari’ah” karena berkonotasi hukum rajam, potong tangan, dan diskriminasi.(matan)

Silaturahmi sebagai Intisari Ibadah

Senin, Juli 14th, 2008

Silaturahmi tidak sekadar datang kerumah tetangga atau saudara bahkan teman tanpa tujuan. Sebenarnya tujuan silaturahmi adalah sebuah komunikasi tinggi yang dilandasi iman dan tidak bertujuan mengambil keuntungan dari pihak yang dikunjungi. Silaturahmi adalah sebuah komunikasi dengan tujuan ingin mengetahui kesehatan seseorang yang dituju, bagaimana keadaan ekonominya, bagaimana keadaan keamanannya, kesehatannya, sehingga apabila mereka dalam keadaan yang perlu dibantu, pelaku silaturahmi ikhlas mengulurkan hasil prestasi hidupnya. Jadi tujuan silaturahmi ialah saling menjenguk keberadaan kesehatan, prestasi hidupnya yang boleh jadi sedang dalam keadaan stagnan, maka mereka yang kuat dengan senang hati menolong pada yang membutuhkan.

Silaturahmi merupakan intisari dari budaya Islam, buah dari semua ibadah yang ada dalam Islam. Sholat, puasa, haji dan zakat akan membuahkan silaturahmi. Tentu saja sholat yang telah menyandarkan diri sebagai hamba Allah SWT, puasa yang dilakukan hanya untuk mendapat ridlo Allah SWT. Haji yang ditunaikan berorientasi pada Amrullah dan zakat karena Allah. Namun dalam kenyataannya bisa jadi bertemunya individu bukan dalam rangka mengamalkan ibadahnya itu. Alhasil tidak ada artinya orang kaya tetapi tidak membuat kanan-kirinya yang lapar menjadi kenyang. Takkan berarti adanya orang pandai tetapi tidak membuat orang disekitarnya bertambah ilmu . Takkan berarti, ada penguasa tapi kehadirannya tidak membuat orang yang sedang teraniaya menjadi terlindungi.Sebuah kehadiran dan keberadaannya akan berarti ketika kehadirannya dibuktikan dengan perbuatan terhadap mitra dialognya pada momen-momen silaturahmi. Sehingga yang kaya membantu yang miskin, yang pandai dengan tulus mendermakan ilmunya kepada yang belum mengerti dan yang berkuasa tidak semena-mena kepada yang lemah dan dhuafa.

Saling mengerti dan terlibat satu dengan yang lain. Keterlibatan menyebabkan seseorang memiliki keperdulian berintegrasi dan beriteraksi dengan orang lain. Interaksi adalah budaya religi. Maka silaturahmi adalah sebuah budaya dari orang-orang beriman yang telah melakukan ritual keagamaan. Rasulullah SAW bersabda ” Bahwa barang siapa melakukan silaturahmi maka ia akan bertambah umur dan bertambah rezeki”. Karena silaturahmi adalah intisari ibadah yang dibutuhkan saat kita hendak menjamah kenyataan sosial.(dwi)

Agama Sebagai Gaya Hidup

Kamis, Juni 26th, 2008

Ketika terjadi baku hantam antar faksi dalam suatu agama atau antar pengikut ajaran agama tertentu, seperti akhir-akhir ini yang sering terjadi, atau kekerasan antar kelompok yang mengatasnamakan agama menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa agama ternyata melahirkan kekerasan. Padahal ajaran agama manapun tidak ada yang mengijinkan kekerasan yang mengakibatkan seseorang atau sekelompok

selengkapnya →

Penyimpangan Perilaku Seks dan Pernikahan Sejenis

Kamis, Juni 19th, 2008

Penyimpangan perilaku seks yang berujung pada pernikahan sejenis(pria vs pria,wanita vs wanita) yang hingga dekade ini makin marak dilakoni oleh sebagian kecil anak cucu Adam, bahkan dinegara bagian Amerika Serikat, tepatnya di San Francisco, California baru-baru ini telah melegalkan jenis pernikahan tersebut. Sehingga semakin menambah daftar negara yang melegalkannya, setelah sebelumnya negara seperti Belanda, Belgia juga Denmark telah lebih dulu menerapkan aturan itu.

selengkapnya →

Wanita dalam Karir & Keluarga

Kamis, Juni 12th, 2008

Seorang perempuan yang sudah menikah dan dikaruniai anak dan ia mempunyai karir jabatan disuatu kantor, maka sebuah dilema yang kerap mengganggu wanita tadi ialah, disatu sisi ia sebagai ibu yang tidak mungkin merenggangkan ikatan batin yang amat kuat terhadap sang anak, pada sisi yang lain syahwat karir yang kuat mewajibkan ia untuk bekerja, mengejar jabatan demi jabatan yang tidak pernah putus.

selengkapnya →