Archive for the ‘Artikel’ Category

Kiat Melaksanakan Sholat Tahajud

Selasa, Agustus 23rd, 2011

Ada beberapa kiat yang dapat membantu seseorang untuk bangun di malam hari guna melakukan shalat Tahajjud. Di antaranya adalah:

[1]. Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dan kedudukan orang yang melakukannya di sisi Allah Ta’ala serta segala apa yang disediakan baginya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, bagi mereka disediakan Surga.

selengkapnya →

Ciri-ciri Penduduk Surga

Selasa, Juli 19th, 2011

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du. selengkapnya →

Hari Baik

Kamis, April 29th, 2010

(Renungan)

Sabtu malam minggu sering dianggap hari special oleh banyak orang, terutama orang kota. Tetapi tidak bagi Pak Kasan, tukang becak di Klaten, Jawa Tengah. Ia memilih hari Jum’at sebagai hari special, bukan malam minggu, karena Jum’at merupakan sayyidul ayyam, penghulu semua hari.

Jika banyak orang mengisi malam minggu dengan begadang atau bersenang-senang, maka pak Kasan mengisi hari spesialnya, hariJum’at, dengan melakukan amal spesialpula. Pada tiap Jum’at ia bertekad harus bisa memberi lebih banyak kepada orang lain daripada hari biasa. Tapi pak Kasan “hanya” tukang becak yang tidak punya banyak uang. Apa yang bisa dilakukan? Pakn Kasan lalu memutuskan setiap hari Jum’at semua penumpangnya di gratiskan. Itulah Shodaqohnya.

Bu Marto, orang kaya, suatu hari naik becak pak Kasan tanpa menawar. Kebetulan hari itu hari Jum’at. Setelah sampai tujuan, bu Marto bertanya berapa ongkos yang harus dia bayar. “maaf bu, bukan saya menolak uang ibu, tetapi saya telah bertekad bersedekah dengan menggratiskan semua penumpang saya pada hari Jum’at. Kebetulan hari ini hari Jum’at, jadi ibu tidak perlu membayar ongkos becak”, kata pak Kasan dengan sopan. Lalu dia mengayuh becaknya pergi tanpa menunggu jawaban balik bu Marto.

Tinggallah bu Marto sendiri, berdiri, sambil termangu. Dia merasa di jewer karena selama ini sangat jarang bersedekah. Tetapi dia tidak percaya begitu saja. Dia ingin menguji ketulusan tukang becak itu. Maka pada hari lain, bu Marto sengaja menumpang becak pak Kasan pada hari Jum’at. Kali ini dia pilih tujuan yang lebih jauh daripada Jum’at sebelumnya. Ternyata pak Kasan tidak berubah. Hari Jum’at itu bu Marto digratiskan membayar ongkos becak karena hari Jum’at. Bu Marto kini yakin kebaikan pak Kasan pada hari Jum’at bukan pura-pura. Akhirnya bu Marto minta diantar kerumah pak Kasan, ingin melihat dari dekat keluarga pak Kasan. Maka dengan senang hati tukang becak yang tulus itu mengantarkan. Di sana buMarto menyaksikan rumah pak Kasan sangat sederhana, istrinya berjilbab menutup aurot tubuhnya dan dua orang anak manis yang masih duduk di sekolah dasar. “ Saya merasa malu kepada bapak”, kata bu Marto. “Bapak orang luar biasa. Bapak hidup sederhana, cenderung kekurangan tetapi tidak pernah meninggalkan sedekah. Sedangkan saya yang kecukupan, bahkan berlebih, tetapi tidak bersedekah”, katanya. Singkat cerita, akhirnya bu Marto ingin mengajak pak Kasan dan istrinya naik haji bersama.

Kesederhanaan adalah kekuatan. Kita sering memperoleh kearifan dari orang-orang kecil yang menjalani hidup dengan hati sederhana tetapi penuh kejujuran. Memberi tanpa harap dipuji, apalagi menuntut publikasi. Bulan ini kita memasuki dua tahun baru, Hijriyah dan miladiyah. Apa yang bisa kita lakukan untuk memberi makna lebih pada kehidupan kita? Pak Kasan memilih jalan sederhana tapi konkret. Dan keputusan itu luar biasa. Setiap Jum’at dia berinfaq 100 persen, bukan 10 atau 20 persen dari seluruh hasil keringatnya. Hari itu dia pulang tanpa membawa uang sepeserpun uang. Padahal belum tentu di rumah ada uang untuk belanja. Pak Kasan mengajarkan kepada kita tentang kesungguhan. Hari Jum’at dijadikan alat pengungkit meningkatkan kebaikan. Pak Kasan juga mengajarkan sikap Istiqomah. Apa yang telah ia putuskan, dia jalani dengan penuh istiqomah, tidak kendur. Khorul amali adwamuha wain qala ( sebaik-baiknya amal ialah di lakukan terus-menerus walaupun sedikit ). Hanya kesungguhan yang membuat orang bisa istiqomah dan berkelanjutan.

Memasuki awal tahun ini apakah kita punya hari-hari spesial seperti pak Kasan? Apakah hari spesial kita juga berfungsi sebagai alat pengungkit kebaikan? Atau hanya untuk bergembira dan menyenangkan diri sendiri? Apakah kita punya alat pengungkit yang bisa mengangkat amal kebaikan lebih banyak dari tahun kemarin? Atau punya hari spesial? Tuhan memberi kita bulan spesial yaitu Ramadhan. Seharusnya kita juga membuat sendiri hari spesial atau minggu spesial. Semua yang kita miliki sesungguhnya bisa kita jadikan alat pengungkit kebaikan. Pak Kasan punya becak dan dengan becak itu dia jadikan pengungkit kebaikan. Dan kita punya mobil, sepeda motor, tabungan, jabatan, ilmu, ketrampilan dan masih banyak lagi. Lalu manakah dari milik kita yang banyak itu kita jadikan alat pengungkit kebaikan kita?

Seharusnya bukan hanya bu Marto yang merasa kena jewer pak Kasan, tetapi kita semua. Begitu banyak yang kita miliki tetapi begitu sedikit yang kita jadikan pendorong amal. Tsummalatus-alunna yauma idzin anin na’im (pada hari itu, sungguh-sungguh kalian akan ditanya tentang semua kenikmatan).-matan Januari 2010-

Otak dan Hati

Rabu, Maret 17th, 2010

Belakangan ini kita melihat dan membaca dari berbagai media massa mengenai kasus maraknya korban penggunaan fasilitas jejaring sosial, utamanya facebook. Berbagai kasus pidana juga muncul akibat perbuatan sengaja atau tidak disengaja mulai dari penghinaan, perzinaan, dan berbagai tindak kekerasan. Melalui headset telepon selular setiap jari-jemari bisa memainkan chip technology itu dengan biaya yang makin hari maikin murah. Di masa depan bahkan diramalkan gratis. selengkapnya →

Keluarga

Jumat, Agustus 21st, 2009

Keluarga, meski merupakan satuan terkecil dari sebuah negara, namun perannya amat menentukan. Kokoh dan runtuhnya sebuah negara tergantung bangunan yang dibentuk oleh keluarga yang ada didalamnya. Kehancuran keluarga bisa mengancam kehancuran negara. Persoalannya, terlalu banyak orang yang tidak menyadari hal itu. Keluarga seolah tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap keberlangsungan sebuah bangsa, sebuah negara. Sehingga, persoalan-persoalan keluarga tidak menjadi prioritas pembangunan dalam sebuah negara.

selengkapnya →

Dunia Pendidikan

Kamis, Juli 16th, 2009

Empat puluh tahun lalu, sekolah belum menjadi dambaan masyarakat. Para orangtua belum cukup memiliki tekad kuat untuk menyekolahkan anak mereka. Faktor utama bukan soal ekonomi. Sebab tidak sedikit sekolah-lebih-lebih sekolah swasta Islam- sangat memahami kondisi ekonomi masyarakat. Yeyapi karena memang pemahaman para orangtua tentang sekolah belum cukup mampu memotivasi untuk bertekad menyekolahkan anak-anak mereka. selengkapnya →

Mental

Selasa, Mei 12th, 2009

Pemilu 2009 luar biasa. Bukan soal nilai demokrasi, tetapi hiruk-pikuk pelaksanaan dan dampak sesudahnya bisa dijadikan bahan guyonan, bahkan bagi rakyat yang berpendidikan rendah. Di berbagai tempat elit sampai warung kopi pelosok desa, tak lepas menggunjingkan Pemilui yang penuh dinamika konyol itu. Mulai pemunculan 38 partai nasional dan 6 partai lokal, sampai keputusan Mahkamah Konstutusi(MK) tentang suara terbanyak bagi caleg pemenang, membuat suasana “pertarungan” semakin sengit. Berbagai cara dilakukan para caleg berikut parpolnya. Tak hirau melanggar rambu etika apapun. Undang-undangpun disiasati, dicari celah atau menyelinap di balik penglihatan aparat penegak hukum. Pokoknya, segala cara dilakukan.

Semua caleg mengeluarkan uang- dianggap biaya politik- bahkan ada yang menjual sawah dan rumah. Iming-iming kursi dewan yang sangat terhormat dan bergelimang uang terus membayang. Berbagai kalimat memperjuangkan kepentingan rakyat dirangkum. Mereka bak dewa yang siap mengorbankan apa saja demi rakyat. Pemilu legislatif dihelat 9 April lalu. Hasilnya banyak caleg gagal, tewas akibat bunuh diri, gila, mengamuk, mencabut kembali semua yang telah diberikan kepada rakyat, stres dan masih sederet perilaku memalukan lainnya. Mereka kaget karena perolehan suaranya memastikan tak mencapai kursi dewan. Mereka lalu mengumpat rakyat : menjual demokrasi dengan sebungkus rokok.

Rakyat balik mengumpat. Apa yang dilakukan rakyat tak lebih sebagai keberhasilan “pendidikan” para elit politik kepada rakyat. Bahwa uang sebagai tujuan segala kiprah politisi telah dipahami rakyat. Dan rakyat tak mau lagi dibohongi. Jargon-jargon memperjuangkan rakyat tak lebih sebagai kalimat pembungkus tujuan yang sesunggguhnya : uang. Bahkan, rakyat juga tak lagi serta merta menerima arahan para tokoh agama soal politik. Rakyat telah mengerti bahwa apa yang dilakukan sejumlah tokoh agama itu penuh nuansa transaksional dengan para caleg.

Pangkal persoalan kondisi itu sebenarnya tidak rumit. Mental menjadi kata kunci. Meluapnya jumlah partai politik tak lepas dari penyakit mental yang selalu menolak musyawarah dalam perbedaan.  Juga tak lepas dari pengaruh suara-suara pembisik yang terus membakar semangat para elit untuk bertarung, bukan bersaing(secara sehat – fastabiq al-khairat).

Demikian juga para caleg. Mental mereka patut dipertanyakan. Yang kalah menjadi gila bahkan bunuh diri, yang menang -kalau melihat pengalaman yang lalu- lepas kendali. Mental mereka runtuh ketika menghadapi dinamika dunia gemerlap. Mental menjadi penentu keberhasilan pencapaian cita-cita. Kalau mental elit negeri ini runtuh, jangan salahkan bila mental rakyat ikut tergerus. Dan negeri ini menunggu kehancuran. Kalau bangsa ini mau menjadi bangsa yang disegani, dan negara ini menjadi negara besar, penguatan mental menjadi agenda utama. Lebih-lebih bagi para elit berbagai sektor. Jangan lagi seleksi calon elit negeri mengabaikan persoalan mental.(matan,mei 2009)

Agamawan dan Politik

Sabtu, April 18th, 2009

Sebutan kyai tidak hanya melekat pada manusia. Keris, gong, kereta dan beberapa barang yang yang dikeramatkan lainya pun ada. Kini, bahkan grup musikpun menyebut dirinya sebagai kyai, seperti “kyai kanjeng”, milik budayawan Emha Ainun Najib. Sebutan kyai untuk manusia adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu. Tapi tidak selalu ilmu agama. Orang yang dianggap memiliki ilmu kebatinan(baca: dukun) tak jarang juga disebut sebagai kyai. Tapi dalam tajuk ini yang dimaksud kyai adalah orang yang memiliki kelebihan ilmu agama. Maka bisa juga disebut sebagai ulama.

Kyai kerap dikonotasi sebagai pengasuh pesantren, guru ngaji. Setiap hari berkutat pada ilmu al-Quran. Sekilas dipandang sebagai orang yang hanya bisa membaca al-Quran. Tidak lebih. Soal politik, kenegaraan, kemasyarakatan, seolah buka porsi mereka. Karena itu kerap dipandang tak pantas ketika kyai bicara politik, atau soalkemasyarakatan lain. Padahal dalam al-Quran memuat segala segi kehidupan manusia.  Muali soal kecil urusan dirumah, samapi urusan besar negara, bahkan menata dunia. Lihat saja perjalanan bangsa dan negara ini. Sejak dijajah beberapa bangsa asing, peran kyai amat dominan dalam politik. Mereka terus berontak melalui berbagai jalur : pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Semua perjuangan itu bermuara pada terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah merdeka, ketika bangsa ini membangun, peran kyai juga dominan. Pesantren dan berbagai lembaga pendidikan lain yang didirikan dan dikembangkan kyai, terus mendidik bangsa ini untuk bangkit dan berkembang. Tak jarang lulusan madrasah menelorkan para ahli yang tentunya amat diperlukan dalam derap pembangunan negeri ini. Itu menunjukkan bahwa kyai benar-benar mampu  membangun bangsa ini, dan bangsa dimanapun di dunia ini. Iran juga maju setelah dipimpin kyai(Imam Khomeini). Kalau merunut jauh kebelakang, Nabi Muhammad saw juga berperan sebagai Kepala Negara. Begitu juga Khulafa’al-Rasyidin.

tetapi, seperti komunitas lain, kemampuan kyai juga berbeda. Tidak semua mampu berpandangan luas, sampai keberbagai aspek pranata kehidupan. Tak jarang kyai yang hanya mampu ilmu agama, tak paham politik kenegaraan. Ketika reformasi terjadi di negeri ini, dan terjadi kebebasan berpartai politik, muncul sekitar 40 parpol. Menjelang Pemilu, tentu semua parpol perlu orang yang bersedia dijadikan caleg. Berbagai jurus dilakukan oleh para petinggi parpol untuk merayu orang-orang yang dinilai memiliki basis massa jelas. Maka tak jarang kyai menjadi sasaran.

Tak sedikit kemudian kyai terlena pada rayuan itu. Bagi yang memiliki kemampuan luas, tentunya baik. Yang menjadi soal adalah kyai yang tak paham politik, hanyut dalam rayuan politis yang tak paham Islam, atau yang tak mengindahkan norma-norma Islam. Bila kemampuan komunikasi kyai di lingkup politik di bawah kemampuan komunitas politisi amoral, tentu yang terjadi bukannya berdakwah di ranah politik, tetapi justru kyai yang dipolitisir. Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat. Dan, pemilu 2009 ini menjadi satu ajang introspeksi

Budi Pekerti

Jumat, Maret 6th, 2009

Banyak penelitian menyimpulkan, perilaku remaja kini semakin jauh dari norma kesusilaan. Kriminalitas, seks bebas dan berbagai kemerosotan moral melanda mereka, seolah tiada “jaring pengaman”. Celakanya pintu menuju perilaku destruktif(merusak) itu kerap tidak disadari orangtua. Bahkan banyak pintu yang dinilai sebagai bagian dari tren masa kini. Sehingga, tidak perlu mendapat koreksi, apalagi pembelokan.

“Valentine day” misalnya. Hari keempatbelas setiap Februari itu selengkapnya →

SYARI’AH

Kamis, Desember 25th, 2008

Kata Syari’ah mempunyai makna yang luas, dalam al-Qur’an disebut hanya sekali, yakni Surat al-Jatsiyah:18 “tsumma ja,alnaka’ala syari’atin min al-amr”(kemudian kami jadikan engkau berada diatas syariat dari urusan itu). Sekalipun disebut hanya sekali, kata-kata itu dalam proses sejarah Islam menjadi sangat penting. Di masa kini, kata-kata itu semakin penting. Ada Mahkamah Syari’ah, ada Fakultas Syari’ah, ada  Bank Syari’ah dan ada juga gerakan Pro Syari’ah.

Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibnu al-Mandhur syari’ah berarti tempat air ditepi laut, tempat binatang minum. Bisa berarti jalan menuju mata air. Kemudian dalam konteks Islam, kata penulis tersebut, syari’ah bermakna apa yang ditentukan dalam agama. Pengertian ini menunjukan cakupan syari’ah yang sangat luas. Ia mencakup seluruh amal perbuatan manusia yang diajarkan dalam Islam, mulai dari urusan makro sampai mikro. Mulai dari persoalan hubungan internasional sampai kepersoalan perilaku individu. Dengan kata lain, Syari’ah menyangkut ajaran akhlaq(etika dan moral), muamalah(hubungan antar manusia), dan ibadah(hubungan manusia dengan Tuhan).

Namun ada kalanya syari’ah mengalami penyempitan makna. Syari’ah dipahami hanya sebagai hukum-hukum agama; bahkan dipersempit lagi menjadi hukum Fikih; dipersempit lagi menjadi hukum perdata dan pidana. Yang sangat menggelisahkan adalah bahwa syari’ah diidentikkan hanya dengan hukum rajam dan potong tangan.

Bagi umat Islam, sebenarnya tidak ada persoalan bahwa syari’ah adalah jalan hidup yang tidak bisa ditawar. Persoalannya terletak pada pemahamannya. Syari’ah harus dipahami secara komperehensif dan harus terwujud dalam kehidupan nyata. Karena itu, mendidik masyarakat untuk bisa bersuci secara hiegenis misalnya, adalah manifestasi dari syari’ah. Bersuci tidak hanya cukup dengan menggunakan ukuran formalitas fikih. Bersuci sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan adalah bagian dari pelaksanaan syari’ah. Berjuang untuk melawan kemiskinan dan kebodohan adalah bagian dari syari’ah. Berjuang untuk menegakkan keadilan dan martabat manusia juga bagian dari syari’ah. Juga memberantas korupsi dan menegakkan amanah adalah kewajiban syari’ah.

Menegakkan syari’ah memerlukan strategi. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan semangat dan keiklasan. Semangat dan keikhlasan adalah penting, tetapi belum cukup untuk menjadikan perjuangan itu berhasil. Perjuangan memerlukan strategi. Karena itu tidaklah cukup menegakkan syari’ah dengan memasang spanduk dijalan-jalan, demontrasi apalagi menakut-nakuti orang di jalan. Strategi itu akan menimbulkan ketakutan. Syari’ah kemudian dikesankan sebagai simbol yang menakutkan, bukan yang dibutuhkan.

Strategi menegakkan syari’ah melalui pendidikan dan layanan sosial tidak kalah penting. Penegakan syari’ah melalui jalan damai dan realistik akan lebih efektif. Karena itu menjadikan syari’ah sebagai isu politik tidaklah produktif. Lebih baik kita mendorong esensi syari’ah yang berorientasi pada kemaslahatan, misalnya menjadi ruh bagi seluruh produk legislasi.

Kegagalan aktivitas Islam dalam memahami syari’ah akan merugikan dakwah Islam. Lebih fatal lagi jika isu syari’ah hanya bertujuan politis dan berjangka pendek. Bisa dipahami jika masyarakat non-muslim, terkadang merasa miris mendengarkan kata-kata “syari’ah” karena berkonotasi hukum rajam, potong tangan, dan diskriminasi.(matan)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish