Dunia Pendidikan

Empat puluh tahun lalu, sekolah belum menjadi dambaan masyarakat. Para orangtua belum cukup memiliki tekad kuat untuk menyekolahkan anak mereka. Faktor utama bukan soal ekonomi. Sebab tidak sedikit sekolah-lebih-lebih sekolah swasta Islam- sangat memahami kondisi ekonomi masyarakat. Yeyapi karena memang pemahaman para orangtua tentang sekolah belum cukup mampu memotivasi untuk bertekad menyekolahkan anak-anak mereka.

Sepuluh tahun terakhir, kondisi sangat berbeda. Para orangtua cukup paham tentang pentingnya sekolah. Bahkan saking semangatnya, tidak sedikit orangtua yang berani mengeluarkan biaya yang tidak terbatas untuk meyekolahkan anak-anak mereka. Keberhasilan anak-anak disekolah sudah menjadi bagian utama kebanggaan orangtua . Begitu juga keberhasilan untuk lolos masuk sekolah yang dianggap favorit. Nilai kebanggaan pada orangtua terus mengalami perkembangan. Tidak sekadar karena melihat anak-anak mereka berhasil meyelesaikan tugas akademik. Namun sekolah juga menjadi bagian dari support kebanggan tersendiri. Dengan kata lain, diterima atau lulus dari sekolah mana, juga menjadi catatan tebal.

Semangat para orangtua yang semakin menggebu ditangkap oleh para pengelola sekolah. Mereka berlomba memberi berbagai kemudahan dan kecanggihan fasilitas. Mulai gedung megah bertingkat, kelas ber-AC, mengutamakan bahasa Inggris(sampai bahasa Indonesia bukan lagi menjadi bahasa kebanggaan anak negeri), dan sederetan fasilitas lainnya, yang kemudian memunculkan biaya amat tinggi. Anehnya, kini sekolah yang mahal justru menjadi incaran para orangtua. Sampai banyak yang indent. Sekolah-sekolah yang nyaris gratis malah sulit mendapat siswa. Itu terjadi karena kesan yang muncul di masyarakat adalah : anak siapa yang sekolah disana, pasti pintar dan anak orang kaya, kebanggaan orangtua menjadi lengkap : anaknya “didakwa” pintar sekaligus orangtuanya kaya.

Para pengelola sekolah juga akan bangga kalau semua siswa kelas akhir lulus Ujian Nadional(UN), suatu standar kelulusan yang kerap berganti nama dan bentuk itu. Sebaliknya, mereka akang sangat kecewa kalau anak didik mereka tidak lulus. UN kemudian menjadi pertaruhan “hidup-mati” seluruh perangkat sekolah dan wali murid. Lalu apa yang terjadi? Guru, pengurus yayasan, wali murid, siswa, tanpa tertulis dalam lembar kesepakatan, sepakat melakukan apa saja untuk mencapai kelulusan para siswa. Bahkan harus seratus persen. Maka tak heran bila kemudian tidak sedikit guru yang berperilaku menyebal dari etika moral pendidikan yang mestinya dijunjung tinggi. Setiap sekolah menjadi amat khawatir ada siswanya yang tidak lulus UN. Karena akan berimbas pada kusntitas penerimaan siswa tahun berikutnya, yang sesungguhnya berkolerasi dengan pendulangan uang dan prestise. Sekolah kemudian bukan lagi menjadi “kawah candradimuka’ yang menjadi ladang pendidikann anak-anak bangsa, melainkan sudah menjadi industri yang berkiblat pada kesejahteraan pengelola.

Kalau kondisi itu terus berlangsung, kita bisa bayangkan apa yang terjadi pada anak-anak kita, sebagai penerus dakwah Islam dan pembangung negeri ini. Maka, sudah saatnya semua perangkat pendidikan melakukan reorientasi pendidikan di negeri ini. Bahwa  moral agama(Islam) yang telah sekian lama terkesampingkan, perlu diangkat kembali menjadi landasan daras proses pendidikan kita. Bukan sekadar dijadikan wacana, tetapi harus menjadi dasar serta perilaku dunia pendidikan.(matan,juli-09)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish