Keluarga

Keluarga, meski merupakan satuan terkecil dari sebuah negara, namun perannya amat menentukan. Kokoh dan runtuhnya sebuah negara tergantung bangunan yang dibentuk oleh keluarga yang ada didalamnya. Kehancuran keluarga bisa mengancam kehancuran negara. Persoalannya, terlalu banyak orang yang tidak menyadari hal itu. Keluarga seolah tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap keberlangsungan sebuah bangsa, sebuah negara. Sehingga, persoalan-persoalan keluarga tidak menjadi prioritas pembangunan dalam sebuah negara.

Banyak bukti yang menunjukkan demikian. Lebih-lebih di era dimana kapitalis menjadi raja. Semua sisi kehidupan diarahkan pada hal-hal yang berkait dengan ekonomi. Tak heran bila kemudian terlihat bahwa setiap langkah manusia dimuarakan pada persoalan ekonomi. Selain soal ekonomi seolah bukan menjadi suatui yang perlu diperhatikan, apalagi menjadi hal yang penting. Budaya, moral keagamaan, kini seolah bukan lagi menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Karena tak herang bila sekarang semakin banyak bermunculan perilaku masyarakat yang benar-benar menyimpang dari moral keagamaan dan budaya unggul. Seperti tayangan televisi di Indonesia, seolah tidak lagi mengindahkan dampak dekadensi moral yang bakal ditimbulkan. Meski kerap mendapat kritikan dari sejumlah pakar psikologi dan ulama, toh tayangan yang dinilai dapat merusak moral keluarga itu terus tayang. Alasannya, apa yang mereka tayangkan adalah keinginan masyarakat. Artinya, pemirsa televisi memang menghendaki tayangan yang seperti itu. Dengan bahasa lain, itulah keinginan pasar. Soal dampak, bukan menjadi tanggungjawab produser.

Tidak sampai diditu. Para artis yang terlibat menggunakan dalih bahwa apa yang ditayangkan televisi tak lebih dari sebuah hiburan, sebuah produk seni yang perlu mendapat apresiasi. Bahkan, kemudian muncul gaya busana dan gaya tubuh yang seronok, mereka menilai semuanya semata ekspresi seni. Ironisnya, para pengeritik malah dituding sebagai kelompok yang melihat suguhan seni itu dengan pikiran “ngeres”. Semakin rancunya yang haq dan yang bathil membuat masyarakat kini semakin tidak tahu arah. Satu pihak mereka yang terus-menerus mendapat suguhan yang secara tak sadar merusak moral, sementara sisi lain mereka tak bisa mengelak akibat desakan mode yang amat berpengaruh pada lifestyle yang terus melesak ke ranah liberal. Sehingga filter yang sebelumnya dirancang, seolah tinggal cita-cita. Yang tampak sekarang adalah, semakin banyakpersoalan keluarga yang timbul. Tidak saja persoalan anak yang semakin rawan pengaruh lingkungan destruktif, tetapi juga orangtua yang kini ternyata tak kalah mengkhawatirkannya. Terbukti semakin banyak kasusu rumahtangga yang sampai ke Pengadilan Agama (PA).

Akar masalahnya, kalau mau dirunut, berawal dari pengaruh budaya yang sebenarnya merusak, yang secara tak sadar merasuki keluarga melalui berbagai sisi, bahkan sampai masuk celah kamar yang paling sempit sekali pun. Akibatnya, terjadi perubahan gaya hidup yang mengarah pada gaya hedonis dan konsumeris. Kondisi seperti ini tentu sudah harus mendapat perhatian serius. Berbagai saringan budaya yang melawan kemoralan agama perlu segera dibangun. Pembentukan keluarga sakinah menjadi alternatif yang paling baik. Sebab, keluarga sakinah mampu membangun generasi prima yang bermoral agama. Dari keluarga sakinah akan terbangun bangsa yang kokoh. Dan dari bangsa yang kokoh akan membentuk negara yang kuat.(matan-07)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish