Mental

Pemilu 2009 luar biasa. Bukan soal nilai demokrasi, tetapi hiruk-pikuk pelaksanaan dan dampak sesudahnya bisa dijadikan bahan guyonan, bahkan bagi rakyat yang berpendidikan rendah. Di berbagai tempat elit sampai warung kopi pelosok desa, tak lepas menggunjingkan Pemilui yang penuh dinamika konyol itu. Mulai pemunculan 38 partai nasional dan 6 partai lokal, sampai keputusan Mahkamah Konstutusi(MK) tentang suara terbanyak bagi caleg pemenang, membuat suasana “pertarungan” semakin sengit. Berbagai cara dilakukan para caleg berikut parpolnya. Tak hirau melanggar rambu etika apapun. Undang-undangpun disiasati, dicari celah atau menyelinap di balik penglihatan aparat penegak hukum. Pokoknya, segala cara dilakukan.

Semua caleg mengeluarkan uang- dianggap biaya politik- bahkan ada yang menjual sawah dan rumah. Iming-iming kursi dewan yang sangat terhormat dan bergelimang uang terus membayang. Berbagai kalimat memperjuangkan kepentingan rakyat dirangkum. Mereka bak dewa yang siap mengorbankan apa saja demi rakyat. Pemilu legislatif dihelat 9 April lalu. Hasilnya banyak caleg gagal, tewas akibat bunuh diri, gila, mengamuk, mencabut kembali semua yang telah diberikan kepada rakyat, stres dan masih sederet perilaku memalukan lainnya. Mereka kaget karena perolehan suaranya memastikan tak mencapai kursi dewan. Mereka lalu mengumpat rakyat : menjual demokrasi dengan sebungkus rokok.

Rakyat balik mengumpat. Apa yang dilakukan rakyat tak lebih sebagai keberhasilan “pendidikan” para elit politik kepada rakyat. Bahwa uang sebagai tujuan segala kiprah politisi telah dipahami rakyat. Dan rakyat tak mau lagi dibohongi. Jargon-jargon memperjuangkan rakyat tak lebih sebagai kalimat pembungkus tujuan yang sesunggguhnya : uang. Bahkan, rakyat juga tak lagi serta merta menerima arahan para tokoh agama soal politik. Rakyat telah mengerti bahwa apa yang dilakukan sejumlah tokoh agama itu penuh nuansa transaksional dengan para caleg.

Pangkal persoalan kondisi itu sebenarnya tidak rumit. Mental menjadi kata kunci. Meluapnya jumlah partai politik tak lepas dari penyakit mental yang selalu menolak musyawarah dalam perbedaan.  Juga tak lepas dari pengaruh suara-suara pembisik yang terus membakar semangat para elit untuk bertarung, bukan bersaing(secara sehat – fastabiq al-khairat).

Demikian juga para caleg. Mental mereka patut dipertanyakan. Yang kalah menjadi gila bahkan bunuh diri, yang menang -kalau melihat pengalaman yang lalu- lepas kendali. Mental mereka runtuh ketika menghadapi dinamika dunia gemerlap. Mental menjadi penentu keberhasilan pencapaian cita-cita. Kalau mental elit negeri ini runtuh, jangan salahkan bila mental rakyat ikut tergerus. Dan negeri ini menunggu kehancuran. Kalau bangsa ini mau menjadi bangsa yang disegani, dan negara ini menjadi negara besar, penguatan mental menjadi agenda utama. Lebih-lebih bagi para elit berbagai sektor. Jangan lagi seleksi calon elit negeri mengabaikan persoalan mental.(matan,mei 2009)

  • Pilihan Bahasa

    ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish