Otak dan Hati
Belakangan ini kita melihat dan membaca dari berbagai media massa mengenai kasus maraknya korban penggunaan fasilitas jejaring sosial, utamanya facebook. Berbagai kasus pidana juga muncul akibat perbuatan sengaja atau tidak disengaja mulai dari penghinaan, perzinaan, dan berbagai tindak kekerasan. Melalui headset telepon selular setiap jari-jemari bisa memainkan chip technology itu dengan biaya yang makin hari maikin murah. Di masa depan bahkan diramalkan gratis.
Selalu saja yang paling banyak memanfaatkan, sekaligus korban, adalah generasi muda, usia SMP-SMA. Sebuah periode pertumbuhan yang dikenal dengan the formative years. Di usia itu, anak muda lagi gencar mencari identitas dan masa pencarian tokoh panutan yang bisa saja berubah-ubah bagaikan fluktuasi harga saham atau kurs rupiah dilantai bursa. Di tengah-tengah itu ada kondisi kedua orang yang asyik-masyuk mengais rezeki yang konon juga demi masa depan anak.
Lembaga-lembaga formal pendidikan sepertinya tak berdaya menanamkan kesadaran dan pengetahuan bahwa teknologi dan perkembangan jaman selalu saja memunculkan dilema atau pisau bermata dua. Sayangnya, sudah menjadi jamak di negeri kita pemanfaatan piranti teknologi tak serta-merta dibarengi dengan pendidikan keadaban. Tidak sekedar user’s guide yang hanya beberapa lembar kertas bisu. Menanankan perilaku positif tentang pemanfaatan yang produktif nyaris tak dikenal.
Walhasil, kita selalu menjadi korban dari sebuah kemajuan teknologi atau lompatan peradaban manusia. Di tengah-tengah arus globalisasi yang tanpa batas dewasa ini, sikap rasional dalam memandang setiap kemajuan saja tidaklah cukup. Rasionalitas yang bertumpu dari ketajaman otak manusia hanya mampu menembus ruang-ruang yang kasat mata dan diprediksi berdasarkan sejumlah bukti-bukti empiris sebelumnya. Ada keterbatasan dan kemusykilan.
Sebaliknya, melihat setiap fenomena baru dengan menggunakan aras ketajaman intuitif yang berasal dari ketajaman hati seseorang akan melahirkan sikap preventif yang positif. Wujudnya adalah sikap-sikap hati-hati, kebajikan, kewaspadaan, dan kesantunan. Nilai-nilai itu hanya bisa disemaikan melalui tutur kata dan teladan. Celakanya pendidikan terlanjur dimaknai sebagai transfer mata pelajaran dan indikator keberhasilannya cukup dengan angka-angka : passing grade, IPK, dan semacamnya.
Seperti apakah model generasi mendatang? Semua bertanggungjawab atas agenda besar ini. Organisasi kepelajaran, kemahasiswaan, dan kepemudaan merupakan garda depan barisan ini. Ada dua polarisasi ekstrem yang terjadi selama ini. Di satu sisi mereka yang terlampau jauh berperilaku bebas, sementara disisi lain mereka yang tak peduli dengan lingkungan agar dapat meraih kursi di sekolah favorit atau perguruan tinggi negeri ternama. Kata kunci pertama, mumpung masih muda. Kelompok kedua belajar, belajar, dan belajar.
Padahal perjalanan hidup tak selalu linier. Tidak hitam dan putih. Persoalan kehidupan juga tak melulu dapat diatasi dengan otak dan otot. Tugas utama para aktivis sosial kini adalah menanamkan penyadaran dan kesadaran bahwa pendidikan perilaku yang bersumber dari kejernihan hati adalah pertama dan utama. Pendidikan formal juga kini tengah tergerus oleh ambisi value for money yang mengajarkan pragmatisme. Pragmatisme, materialisme, dan hedonisme di tengah kepungan gebyar teknologi. Sekali lagi, hanya hati yang bisa mengajarkan neluri : hati-hati !.(matan:03/2010)