Wanita dalam Karir & Keluarga
Seorang perempuan yang sudah menikah dan dikaruniai anak dan ia mempunyai karir jabatan disuatu kantor, maka sebuah dilema yang kerap mengganggu wanita tadi ialah, disatu sisi ia sebagai ibu yang tidak mungkin merenggangkan ikatan batin yang amat kuat terhadap sang anak, pada sisi yang lain syahwat karir yang kuat mewajibkan ia untuk bekerja, mengejar jabatan demi jabatan yang tidak pernah putus. Kondisi perempuan kini yang semakin bingung menghadapi arus budaya yang tidak jelas, perempuan seolah hanya merasa dijadikan obyek kaum lelaki sehingga merasa ditindas dan tidak boleh berkarya. Lalu mereka “berontak” menyuarakan persamaan hak, hingga lupa kewajiban yang sebenarnya sebagai perempuan. Pada kenyataannya tidak sedikit perlakuan kurang pas kaum lelaki terhadap perempuan, bahkan ada yang tidak manusiawi dan juga sebaliknya bisa saja terjadi. Maka timbul perdebatan siapa menyakiti siapa. Perdebatan itu terus mencuat, hingga kita tidak sadar telah dibawa keluar dari akar moral yaitu AGAMA. Islam sebagai agama, sebenarnya telah memberi petunjuk bagaimana memperlakukan perempuan. Konsep itu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengangkat derajat kaum feminim. Persamaan hak antara lelaki dan perempuan juga disetarakan dalam Islam. Tidak sedikit ayat al-Qur-an dan Hadist yang menyatakan bahwa lelaki dan perempuan yang mulia adalah yang bertaqwa kepada Allah SWT. Islam tidak melarang perempuan bekerja diluar rumah atau masuk kewilayah publik lainnya. Islam jiga mewajibkan laki-laki dan perempuan mencari ilmu. Tetapi Islam juga mewajibkan perempuan untuk merawat suami dan anak-anaknya. Islam memberi garis kiprah perempuan dalam batas yang tidak menimbulkan kehancuran moral, yang pada gilirannya akan dapat menghancurkan umat manusia.(matan 2008) (Dwi)